Teknologi Bersih
Sektor industri salah satu penyumbang devisa. Namun sektor itu
juga menghasilkan limbah dan emisi. ”Jika tak ditangani dengan baik akan
menimbulkan efek negatif bagi lingkungan,” ujar Prof Dr Ir Purwanto
DEA. Peraih gelar doktor teknologi proses kimia dari ENSIGC-INP Toulouse,
Prancis, itu memperkirakan 645.120 industri di Jawa Tengah (2007) punya potensi
limbah bahan berbahaya dan beracun 783.367,5 ton/tahun. Persoalan lingkungan
acap ditanggapi secara pasif dengan membiarkan limbah. Atau, secara reaktif dengan
mengolah limbah untuk memenuhi baku mutu dan menaati peraturan. ”Padahal,
produksi bersih memadukan aspek ekonomi dan lingkungan dengan meningkatkan
efisiensi dan mencegah pencemaran. Itulah yang menjadi dasar pembangunan sektor
industri berkelanjutan,” katanya.
Pria kelahiran Demak, 28 Desember 1961, itu menuturkan
produksi bersih menggunakan strategi 5R, yakni rethink (berpikir ulang), reduce
(pengurangan), reuse (pakai ulang), recycle (daur ulang), dan recovery (ambil
ulang). ”Namun upaya mencegah dan mengurangi limbah dari sumbernya belum
maksimal. Padahal, saat krisis global seperti saat ini, penerapan 5R akan
meningkatkan efisiensi sumber daya bahan, energi, dan air.” Produksi bersih dapat meningkatkan efisiensi.
Dan, itu meliputi tata kelola industri yang baik, penggantian bahan baku ramah
lingkungan, perbaikan proses dan teknologi, pemakaian teknologi bersih, dan
modifikasi produk yang lebih ramah lingkungan.
a. Produksi bersih dan teknologi
bersih
Produksi bersih merupakan upaya proaktif dalam
sistem produksi untuk tidak melakukan aktivitas dan proses apapun sebelum yakin
benar bahwa proses dan produknya memang bersih dan ramah lingkungan. Produksi
bersih merupakan strategi pengelolaan lingkungan yang preventif yang bertujuan
mengurangi resiko terhadap lingkungan dan manusia. Produksi bersih ini dapat
dijadikan unsur penting dari Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001.
Strategi Produksi Bersih mempunyai arti yang
sangat luas karena di dalamnya termasuk upaya pencegahan pencemaran dan
perusakan lingkungan melalui pilihan jenis proses yang akrab lingkungan,
minimisasi limbah, analisis daur hidup produk, dan teknologi bersih. Pencegahan pencemaran
dan perusakan lingkungan adalah strategi yang perlu diprioritaskan dalam upaya
mewujudkan industri dan jasa yang berwawasan lingkungan, namun bukanlah
merupakan satu satunya strategi yang harus diterapkan. Strategi lain seperti
program daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah tetap diperlukan, sehingga
dapat saling melengkapi satu dengan lainnya (Bratasida, 1997).
Strategi untuk menghilangkan limbah atau
mengurangi limbah sebelum terjadi (preventive strategy), lebih baik daripada
strategi pengolahan limbah atau pembuangan limbah yang telah ditimbulkan
(treatment strategy). Kombinasi kedua strategi tersebut sesuai dengan skala
prioritas pelaksanaan Produksi Bersih adalah sebagai berikut (Overcash, 1986) :
1.
Eliminasi : Strategi ini
dimasukkan sebagai metode pengurangan limbah secara total. Bila perlu tidak
mengeluarkan limbah sama sekali (zero discharge).
2. Mengurangi sumber limbah :
Strategi pengurangan limbah yang terbaik adalah strategi yang menjaga agar
limbah tidak terbentuk pada tahap awal. Pencegahan limbah mungkin memerlukan
beberapa perubahan penting dalam proses produksi, tetapi dapat meningkatkan
efisiensi ekonomi yang besar dan menekan pencemaran lingkungan.
3.
Daur Ulang : Jika timbulnya limbah
tidak dapat dihindarkan dalam suatu proses, maka harus dicari strategi-strategi
untuk meminimumkan limbah tersebut sampai batas tertinggi yang mungkin dilakukan,
seperti misalnya daur ulang (recycle) dan/atau penggunaan kembali (reuse). Jika
limbah tidak dapat dicegah atau diminimumkan melalui penggunaan kembali atau
daur ulang, strategi-strategi yang mengurangi volume atau kadar racunnya
melalui pengolahan limbah dapat dilakukan. Walaupun strategi ini kadang-kadang
dapat mengurangi jumlah limbah, tetapi tidak sama efektifnya dengan mencegah
limbah di tahap awal.
4. Pengolahan Limbah : Strategi yang
terpaksa dilakukan mengingat pada proses perancangan produksi perusahaan belum
mengantisipasi adanya teknologi baru yang sudah bebas limbah. Artinya limbah
memang sudah terjadi dan ada dalam sistem produksinya, namun kualitas dan
kuantitas limbah yang ada dikendalikan agar tidak melebihi baku mutu yang
disyaratkan.
5. Pembuangan Limbah : Strategi
terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah metode-metode pembuangan alternatif.
Pembuangan limbah yang tepat merupakan suatu komponen penting dari keseluruhan
program manajemen lingkungan, meskipun ini adalah teknik yang paling tidak
efektif.
6.
Remediasi : Strategi
penggunaan kembali bahan-bahan yang terbuang bersama limbah. Hal ini dilakukan
untuk mengurangi kadar racun dan kuantitas limbah yang ada.
b. Peluang dan Tantangan
Penerapan Produksi Bersih
Produksi Bersih diperlukan sebagai cara untuk
mengharmonisasikan upaya perlindungan lingkungan dengan kegiatan pembangunan
dan pertumbuhan ekonomi. Peluang penerapan Produksi Bersih adalah
(Djajadiningrat, 2001) :
1.
Memberi keuntungan ekonomi, sebab
didalam Produksi Bersih terdapat strategi pencegahan pencemaran pada sumbernya
(source reduction dan in-process recycling) yaitu pencegahan terbentuknya
limbah secara dini dengan demikian dapat mengurangi biaya investasi yang harus
dikeluarkan untuk pengolahan dan pembuangan limbah atau upaya perbaikan
lingkungan.
2. Mencegah terjadinya pencemaran dan
perusakan lingkunga Memelihara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka
panjang melalui konservasi sumber daya, bahan baku dan energi.
3.
Mendorong pengembangan teknologi
baru yang lebih efisien dan akrab lingkungan
4.
Mendukung prinsip ‘environmental
equity’ dalam rangka pembangunan berkelanjutan.
5. Mencegah atau memperlambat
terjadinya proses degradasi lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya alam.
6.
Memelihara ekosistem lingkungan.
7.
Memperkuat daya saing produk di
pasar internasional.
Tantangan Penerapan Produksi Bersih, antara lain :
1.
Tercapainya efisiensi produksi
yang optimal
2.
Diperolehnya penghargaan
masyarakat terhadap sistem produksi yang akrab lingkungan
3.
Mendapatkan insentif
Meskipun demikian, hambatan ekonomi akan timbul
bila kalangan usaha merasa tidak akan mendapat keuntungan dalam penerapan
Produksi Bersih. Sekecil apapun penerapan Produksi Bersih, bila tidak
menguntungkan bagi perusahaan maka akan sulit bagi manajemen untuk membuat
keputusan tentang penerapan Produksi Bersih. Hambatan pada aspek ekonomi dan
teknis antara lain adalah (Djajadiningrat, 2001) :
1.
Keperluan biaya tambahan peralatan
2.
Tingginya modal/investasi
dibanding kontrol pencemaran secara konvensional sekaligus penerapan Produksi
Bersih
3.
Penghematan proses Produksi Bersih
yang belum nyata realisasinya
4.
Kurangnya informasi Produksi
Bersih
5.
Sistem yang baru ada kemungkinan
tidak sesuai dengan yang diharapkan atau malah menyebabkan gangguan
6.
Fasilitas produksi ada kemungkinan
sudah penuh tidak ada tempat lagi untuk tambahan peralatan.
Kendala Sumber Daya Manusia dalam penerapan Produksi Bersih dapat
berupa :
1.
Kurangnya komitmen manajemen
puncak
2.
Adanya keengganan untuk berubah
baik secara individu maupun organisasi
3.
Lemahnya komunikasi internal
4.
Pelaksanaan organisasi yang kaku
5.
Birokrasi, terutama dalam
pengumpulan data.
6.
Kurangnya dokumentasi dan
penyebaran informasi.
7.
Kurangnya pelatihan kepada
sumberdaya manusia mengenai Produksi Bersih.
Manfaat penerapan Produksi Bersih, antara lain :
1.
Lebih efektif dan efisien dalam
penggunaan sumberdaya alam.
2.
Mengurangi biaya-biaya yang
berkenaan dengan lingkungan
3.
Mengurangi atau mencegah
terbentuknya pencemar
4.
Mencegah berpindahnya pencemar dari
satu media ke media lain
5.
Mengurangi risiko terhadap kesehatan
manusia dan lingkungan
6.
Memberikan peluang untuk mencapai
sistem manajemen lingkungan pada ISO 14000
7.
Memberikan keunggulan daya saing
di pasar domestik dan internasional.
Teknologi bersih merupakan teknologi yang
mengurangi pemakaian energi dan bahan baku yang berlebihan, mengurangi limbah
yang dihasilkan, dan memperbesar proses daur ulang. Strategi yang dapat
dilakukan antara lain:
1. Minimalisasi limbah, hemat energi,
hemat air dan pelarut, pemakaian bahan ramah lingkungan, penghindaran dari
pemakaian B3, dan pengaturan transportasi dan penyimpanan bahan baku dan bahan
penunjang.
2.
Pengurangan sumber limbah.
Penggantian/substitusi bahan baku, untuk mengurangi jumlah, volume dan
toksisitas limbah.
3.
Modifikasi proses, bertujuan untuk
efisiensi proses yang potensial mengeluarkan limbah dan sekaligus mengganti dan
memutakhirkan proses yang ramah lingkungan.
4.
Good Operating Practices, dapat
membantu mengurangi limbah dan kehilangan bahan yang tumpah, tercecer dan
bocor.
5.
Limbah yang dikeluarkan digunakan
kembali (re-use), didaur ulang (recycle) dan diambil kembali (recovery). Dalam
hal ini limbah dihilangkan cemarannya dan diperoleh bahan yang relatif
berharga.
Didalam konteks pengembangan teknologi pengolahan limbah cair, ada
beberapa faktor yang harus diantisipasi oleh para peneliti dan pengembang
teknologi dimasa depan yaitu :
1. Antisipasi terhadap perubahan
karakteristik limbah cair. Limbah cair yang dibuang oleh industri diperkirakan
akan mengalami perubahan karakteristik atau bahkan bertambah terus dari waktu
ke waktu yang disebabkan terjadinya perubahan kebijakan oleh pemerintah,
penggunaan bahan kimia yang baru dalam proses produksi, penggunaan kembali
limbah (resue), kebijakan ekonomi, sosial budaya, atau bertambahnya
industri-industri baru. Beban limbah perkapitanya akan meningkat seiring dengan
meningkatnya produksi (permintaan konsumen) dan pendapatan.
2. Kebutuhan pengembangan teknologi
bersih. Penggunaan teknologi bersih, hinga saat ini hanya terpaku pada proses
produksi, sehingga banyak sekali unit pengolahan limbah yang seharusnya
membersihkan lingkungan tetapi malahan menjadi sumber pencemaran seperti
melalui udara (bau) yang dilepaskan dan penggunaan bahan-bahan kimia seperti
penggunaan logam berat pada koagulan/flokulen yang justru juga menjadi pencemar
pada limbah.
3. Permintaan akan teknologi yang
terintegrasi. Harus diakui banyak industri yang menginginkan teknologi
pengolahan limbah cairnya bersifat terintegrasi yang mudah dioperasikan dari
satu panel kontrol dan memiliki efektivitas dan efisiensi yang tinggi dalam merekoveri
limbah dengan berbagai kondisi pH, konsentrasi, lumpur (sludge), BOD, COD,
waktu, komposisi limbah, temperatur dan dengan berbagai kapasitas limbahnya.
Untuk mewujudkan hal ini diperlukan berbagai riset-riset penunjang.
Dewasa ini, dalam teknologi pengolahan air limbah telah diperkenalkan
adanya teknologi bersih pengolahan air limbah. Teknologi tersebut dinamakan
teknologi oksidasi lanjutan atau advanced oxidation processes (AOP). Teknologi
AOP ini mulai diperkenalkan pada awal tahun 1990-an. Seiring dengan
perkembangannya, saat ini AOP sudah dapat diaplikasikan di industri dengan
kemampuan yang lebih maju dibandingkan dengan teknologi pengolahan air limbah
yang ada.
AOP adalah satu atau kombinasi dari beberapa proses seperti ozone,
hydrogen peroxide, ultraviolet light, titanium oxide, photo catalyst,
sonolysis, electron beam, electrical discharges (plasma) serta beberapa proses
lainnya untuk menghasilkan hidroksil radikal. Hidroksil radikal adalah spesies
aktif yang dikenal memiliki oksidasi potensial tinggi 2.8 V melebihi ozone yang
memiliki oksidasi potensial hanya 2.07 V. Hal ini membuat hidroksil radikal
sangat mudah bereaksi dengan senyawa-senyawa lain yang ada di sekitarnya.
Hidroksil radikal sesuai dengan namanya adalah spesies aktif yang
memiliki sifat radikal, di mana mudah bereaksi dengan senyawa organik apa saja
tanpa terkecuali, terutama senyawa-senyawa organik yang selama ini sulit atau
tidak dapat diuraikan dengan metode mikrobiologi atau membran filtrasi. AOP
akan sangat tepat untuk diaplikasikan dalam pengolahan limbah cair dari industi
tekstil yang banyak mengandung senyawa-senyawa organik sebagai zat pewarna
(dye). Salah satu dari AOP yang
banyak diaplikasikan pada perindustrian tekstil di Jepang adalah kombinasi dari
ozon dan ultraviolet Kombinasi ini banyak dipergunakan mengingat selama ini
baik teknologi ozon maupun lampu ultraviolet bukan merupakan hal yang baru
dalam proses pengolahan air, terutama dalam proses pengolahan air bersih/minum, sehingga kombinasi dari keduanya menjadi
mudah untuk diaplikasikan.
Limbah cair dapat
didayagunakan untuk memproduksi biogas melalui penerapan teknologi pencernaan
anaerobik, yang meliputi penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme dalam
kondisi tanpa oksigen. Proses ini menghasilkan produk yaitu biogas (sekitar 60%
CH4 dan 40% CO2) dan pupuk organik. Metana yang dihasilkan dari proses
anaerobik ini, dapat dimanfaatkan sebagai pengganti gas alam dan potensial
menjadi pengganti bahan bakar fosil yang mahal dan semakin berkurang cadangannya.
Pemanfaatannya yang lain dari limbah adalah untuk memproduksi biopolimer
terutama dari limbah cair agroindustri, dan penggunaan limbah industri sebagai
sumber karbon, sehingga dapat dimanfaatkan oleh sektor indutri lain seperti
industri polimer.
Note : Maaf jika salah, namanya saja baru belajar... ^_^
thanks,,,
BalasHapussama sama sist...
BalasHapusemng kuliahnya jurusan apa yah???
saya teknik kimia :)
BalasHapusterima kasih, adakah bukunya Dr Purwanto ttg T Bersah?
BalasHapus